STAHN Gelar Raker Untuk Penyempurnaan RIP, Renstra, Renop

Tri Handoko: STAHN “Pabrik” SDM Berkualitas
April 21, 2021

Koordinator Staf Khusus Presiden RI Dr. A.AGN Ari Dwipayana saat menjadi pembicara dalam kegiatan Raker STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Kamis 29 April 2021.

SINGARAJA, HUMAS –  Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja melaksanakan Rapat Kerja (Raker) untuk penyempurnaan Rencana Induk Pengembangan (RIP), Rencana Strategis (Renstra), dan Rencana Operasional (Renop) STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja.

Kegiatan Raker tersebut berlangsung di di The Royal Pita Maha, Ubud Gianyar selama tiga hari sejak 29 April hingga 1 Mei 2021, yang dibuka Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja Ida Bagus Wika Krishna.

Dalam sambutannya, Gus Wika demikian sapaan akrabnya menyebut jika Raker untuk Penyempurnaan RIP, Renstra, Renop STAH Negeri Mpu Kuturan adalah sebagai bentuk komitmen untuk berbenah secara internal dan keseriusan untuk berlari sekencangnya sebagai lembaga pendidikan baru.

“Dengan perencanaan yang matang dan terukur artinya seluruh pergerakan di atur rel dan strateginya. Sehingga percepatan sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas bisa segera terwujud,” tegasnya.

Dalam Raker dihari pertama, menghadirkan dua orang pembicara, masing-masing Kepala Kanwil DJPb Provinsi Bali, dan Koordinator Staf Khusus Presiden RI Dr. A.AGN Ari Dwipayana.

Ari Dwipaya dalam kesempatan tersebut menyampaikan beberapa pesan. Salah satunya adalah Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri (PTAHN) harus mampu keluar dari birokratisasi kampus. Debirokratisasi kampus penting untuk merespon disrupsi yang berkembang saat ini.

Menurutnya, kampus perlu melakukan strategi tranformasi organisasi dengan menghilangkan birokratisasi dan kompartemenisasi kampus. Kampus jangan disibukkan dengan urusan administratif dan SPJ. Debirokratisasi kampus harus dilakukan secara besar-besaran.

Selain itu Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri harus mengadopsi semangat merdeka belajar dan kampus merdeka. Saat ini konsep ini diterapkan di lingkungan perguruan tinggi umum dibawah Kemendikbud. Ari berharap perguruan tinggi dibawah Kemenag juga bisa menerapkan konsep ini.

“Kampus bukan lagi menara gading. Saat ini kita mengalami krisis peradaban seperti kekerasan social, intoleransi, politik identitas, kemiskinan, kesenjangan, kelaparan, kebodohan, illiteracy dan krisis lingkungan. Sekarang bagaimana STAHN harus ikut berperan dan berkontribusi untuk member solusi terhadap masalah-masalah dalam masyarakat,” tegas Pria yang akrab disapa Jung Ari ini. (hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.