Ritual Mendem Dasar, Batu dan Bata “Merajah” Simbol Pondasi Spiritual

Menwa STAHN Mpu Kuturan Digembleng Lapantrapos
September 10, 2021
STAHN Mpu Kuturan Jalin MOU Dengan Bawaslu, Libatkan Mahasiswa Dalam Pengawasan Partisipatif
September 13, 2021

SINGARAJA, HUMAS – Minggu, 12 September 2021, Pimpinan dan Seluruh jajaran Pejabat di Lingkungan Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja bersama dengan beberapa pegawai dengan jumlah terbatas, melaksanakan upacara yadnya Mendem Dasar untuk pembangunan Tempat Suci di Kampus setempat.

Ya, pelaksanaan mendem dasar ini adalah rangkaian dari pelaksanaan Pembangunan Lab Praktik Keagamaan STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja yang berlokasi di Jalan Pulau Menjangan, Kelurahan Banyuning. Sebelum pelaksanaan medem dasar, telah dilakukan upacara mapuining di Pura Silayukti, yang merupakan tempat berstananya Ida Bhatara Mpu Kuturan.

Pelaksanaan mendem dasar di Lab Praktik Keagamaan yang diberi nama Pura Agung Mpu Kuturan tersebut dipimpin Ida Pedanda Masnawa dari Griya Mas Liligundi.

Ketua STAHN Mpu kuturan Singaraja, Dr. I Gede Suwindia, S.Ag, M.A mengatakan penamaan Pura Agung Mpu Kuturan sebagai parahyangan di kampus yang berlokasi di Jalan Pulau Menjangan, Kelurahan Banyuning ini diharapkan membawa vibrasi positif dari tokoh besar Mpu Kuturan yang telah menyatukan berbagai sekte yang ada di Bali pada jamannya.

Dikatakan Suwindia proses pembangunan Pura Agung Mpu Kuturan melalui beberapa proses. Seperti prosesi mendak tirta di Pura Silayukti yang merupakan Stana atau linggih dari Ida Bhatara Mpu Kuturan.

“Kita mulai dari mendak tirta di Pura Silayukti, karena dari awal para pendahulu kampus ini sudah menginisiasi mengusung Spirit Tokoh Besar Mpu Kuturan,” jelasanya saat ditemui seusai upacara mendem pedasaran.

Dikatakan Suwindia, ritual mendem pedasaran dalam pembangunan tempat suci itu sangat substansial bagi setiap proses. Filosofi dari upacara tersebut adalah mewujudkan parahyangan suci sebagai simbol bhuana agung lingga stana Ida Bhatara.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) STAHN Mpu Kuturan, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si mengatakan dengan mengusung arsitektur lokal khas Buleleng, Pura Agung Mpu Kuturan ini bisa menjadi museum kecil tentang peradaban Bali Utara khususnya arsitektur dalam parahyangan. Terlebih batu parasnya langka, ukirannya khusus

“Suatu saat, (parahyangan, Red) kita akan menjadi sampel, ketika nanti suatu saat orang melihat Pura Style Buleleng seperti apa. Bukan dalam tataran membedakan Bali Utara dan Selatan, tetapi setidakanya bisa menjadi museum kecil,” singkatnya. (hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.