Ngenteg Linggih, STAHN Mpu Kuturan Luncurkan Tiga Tari Wali

Sempat Pesimis, Devi Mahayoni Berhasil Raih Juara II Lomba Kaligrafi Hindu se-Bali
October 18, 2022
Luluskan 183 Wisudawan, Diminta Implementasikan Karakter Mpu Kuturan
October 31, 2022

SINGARAJA, HUMAS – STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja meluncurkan tiga Tari Wali, bertepatan dengan pelaksanaan Puncak Upacara Ngenteg Linggih Pura Agung Mpu Kuturan yang juga hari Suci Saraswati pada Sabtu, 22 Oktober 2022.

Seperti diketahui, Tari Wali adalah tari yang difungsikan sebagai sarana upacara keagamaan. Tari Wali ini oleh umat Hindu merupakan tari yang disakralkan yang hanya bisa dipentaskan pada hari-hari dan tempat-tempat suci. Sementara, STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja memang merencanakan Upacara Ngenteg Linggih Pura Agung Mpu Kuturan pasca tuntasnya proses pengukiran Pura dimaksud.

Maka, Tim Kesenian STAHN Mpu Kuturan Singaraja kemudian merancang untuk menciptakan tiga Tari Wali. Ketiga tarian itu masing-masing Tari Baris Tri Murti, Tari Rejang Pemendak, dan Tari Rejang Saluwang. Ketiga tarian ini tercipta dengan masing-masing filosofinya sendiri.

Tari Rejang Pemendak misalnya. Melalui Penata Tabuh I Putu Gede Parmajaya, tarian ini diciptakan dari ide awal pengungkapan rasa bhakti penggarap terhadap Ida Bhatara Mpu Kuturan dan Lembaga STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Dengan di sthanakannya Pretima (visualisasi) Ida Bhatara Mpu Kuturan, maka dalam setiap pujawali yang dilaksanakan di Pura Agung Mpu Kuturan akan dilaksanakan upacara Makala Hias.

Untuk memohon kehadiran beliau (Ida Bhatara Mpu Kuturan), maka tarian rejang pemendak ini diciptakan sebagai Icon Pura Agung Mpu Kuturan. Tarian ini difungsikan untuk memendak dan menghadirkan Ida Bhatara Mpu Kuturan untuk memberikan waranugraha, kerahayuan, kerahajengan kepada seluruh civitas akademika STAHN Mpu Kuturan Singaraja.

Dari tabuh yang diciptakan, Gusti Ayu Desy Wahyuni kemudian menciptakan gerakan-gerakan indah penuh kesakralan yang disatukan untuk menjadi sebuah tarian. Tarian ini semakin terlihat magis dengan tambahan suara Gerong yang juga diciptakan oleh I Putu Gede Parmajaya.

Sementara untuk Tari Rejang Saluwang, tercipta atas dasar ungkapan rasa terimakasih kepada Ida Bhatara Mpu Kuturan terhadap jasa-jasa beliau yang telah menyatukan rakyat Bali dari berbagai perbedaan keyakinan.

Tarian yang juga diciptakan oleh Gusti Ayu Desy Wahyuni, memiliki ciri khas garapan tarian sacral dengan gerakan sederhana, hanya dengan meniru gerakan-gerakan alam, seperti gerakan pohon, gerakan angin dan gerakan air serta gerakan alam lainnya. Diramu dijadikan satu dengan menekankankan pada aspek estetika dan kelemah lembutan alunan music (tabuh) yang digarap oleh I Putu Gede Parmajaya, disusun dengan melodi yang sangat sederhana.

Kemudian tari wali ketiga yang diciptakan adalah Tari Baris Tri Murti. Tarian ini berbeda dengan dua tari wali lainnya. Tari Baris Tri Murti ditarikan oleh sembilan orang laki-laki sebagai symbol dari Dewata Nawa Sanga. Gerakan-gerakan tari yang tegas dan lugas diciptakan oleh I Nyoman Sugita Rupiana yang merupakan mahasiswa Pascasarjana STAHN mpu Kuturan Singaraja.

Tari Baris Tri Murti ini menggambarkan perjalanan sejarah masyarakat Hindu di Bali dengan banyaknya sekte-sekte yang ada, kemudian dapat disatukan menjadi paham Tri Murti oleh Ida Bhatara Mpu Kuturan. Kemudian penggarap menuangkan ide melalui kreativitas daya seni, dengan meramu instrument music yang kembali digarap oleh I Putu gede Parmajaya, dengan penonjolan pada terompong, kendang dan cengceng disatukan dengan  instrument gamelan lainnya, sehingga terciptalah sebuah garapan tarian Baris yang diberi nama Baris Tri Murti.

Gusti Ayu Desy Wahyuni menjelaskan, proses penggarapan ketuga tari Wali ini terbilang sangat singkat. Pengerjaannya diawali dengan penggarapan tabuh, barulah kemudian mengisi gerakan tari. “Jadi semua tari wali ini inspirasinya adalah dari Mpu Kuturan dan juga Menjangan atau Saluwang,” jelasnya.

Selanjutnya, Tari Wali ini menjadi persembahan untuk STAH Negeri Mpu Kuturan yang nantinya akan dipentaskan untuk mengiringi berbagai upacara yadnya. “Karena ini tari wali, jadi akan dipentaskan dalam setiap upavcara yadnya yang berlangsung di kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Apakah itu Saraswati, Siwaratri dan juga upacara yadnya lainnya,” ucap Desy Wahyuni. (hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.