Makna Penjor Hari Raya Galungan

Lagi, Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan Raih Gelar Juara Nasional
November 6, 2021
Pedharmawacana STAHN Mpu Kuturan Menjadi Terbaik Nasional
November 9, 2021

SINGARAJA, HUMAS – Hari Raya Galungan akan tiba. Umat Hindu di Bali dan Buleleng khususnya mulai disibukkan untuk melakukan persiapan. Pasar-pasar mulai ramai oleh Umat yang berbelanja janur, buah dan sebagai untuk sarana upakara. Kemudian satu hal juga yang menjadi ciri-ciri untuk menyambut datangnya Galungan adalah memasang Penjor.

Penjor di Bali sebenarnya tidak hanya digunakan dalam rangkaian upacara keagamaan saja seperti dalam hari raya Galungan. Namun juga digunakan sebagai sebuah pelengkap dalam dekorasi yang didesain cantik, indah dan menarik, seperti saat ada acara pernikahan, kegiatan atau even-even tertentu. Sehingga tentu saja, yang disajikan dan lebih dominan adalah unsur seni dan keindahannya, bukan perlengkapan atau unsur-unsur yang berhubungan dengan Yadnya.

Sementara sebuah Penjor jika sebagai sarana pelengkap upacara, terkhusus lagi saat hari raya Galungan, tentu sangatlah berbeda. Tentunya dalam Hari Raya Galungan, Penjor menjadi simbol yang penting dalam menunjang pelaksanaan Upacara tersebut.

Akademisi Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Mpu Kuturan Singaraja I Made Gami Sandi Untara menjelaskan, merujuk pada buku Acara Agama hindu terbitan Dirjen Bimas Hindu dan Budha Th 1994, Penjor memiliki banyak arti. Baik itu sebagai Sarin Tahun, sebagai Lambang Naga Anantaboga, serta sebagai Lambang Naga Basuki.

Menurutnya, dalam menyambut hari Hara Galungan dan Kuningan, Penjor Upacara biasanya dipasang pada sebelah kanan pintu  keluar atau sebelah kanan pintu masuk pura atau depan candi bentar Pura. Sebagai penjor Upacara maka penjor tersebut berisikan hiasan seperyi daun-daunan, janur, paku pipid, bunga daun andong, cemara, buah-buahan dan umbi-umbian.

Sedangkan pada ujung penjor digantungkan sampian penjor, yang mana sampaian ini dilengkapi dengan plawa, porosan, bunga dan wangi-wangian. Kemudian bagian samping digantungkan hasil bumi berupa pala bungkah dan pala gantung dan dibawahnya diisi sesajen dengan sanggah cucuk dilengkapi lamak dan gantung-gantung.

“Secara umum bahwa Penjor Itu sendiri memiliki makna melambangkan suatu persembahan kehadapan Ida Sang Hyang widhi Wasa dalam manifestasi beliau sebagai Bhatara Mahadewa yang berkedudukan di Gunung Agung, yang mana semua perhiasan penjor itu adalah merupakan Anugrah Beliau yang berupa kemakmuran kepada umat manusia dengan berupa sandang dan pangan,” jelasnya.

Dalam hal lainnya lanjut Gami Sandi, Penjor juga melambangkan Naga Anantaboga dan lambang Naga Basuki. Dimana Naga Anantaboga adalah merupakan Simbul tanah, sedangkan Naga Basuki bermakna Keselamatan, dalam hal memberi keselamatan dari  penyakit, penderitaan dan lainnya terhadap Bumi dan segala isinya.

“Maka dari itulah sebabnya Penjor itu bentuknya menyerupai bentuk Naga dengan kepalanya dibawah yaitu sanggah cucuk , yang tak lain adalah sebagai simbol mulut naga,” ujarnya.

Pria yang menjabat sebagai Kepala Prodi Filsafat Hindu STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja ini mengatakan, karena Penjor merupakan Simbol dari Naga Anantaboga dan Naga Basuki, maka waktu yang tepat untuk mencabutnya yaitu pada hari Buda Keliwon Pahang ( Hari Pegat Wakan). Dimana sampahnya harus dibakar habis dan abunya dimasukkan kedalam buah Kelapa gading untuk selanjutnya kelapa dengan abu ditanam di halaman rumah dengan harapan agar memberikan suatu kekuatan untuk memperkokoh jiwa agar penghuni rumah dalam keadaan sehat dan selamat.

“Dengan sesajen yang dipersembahkan pada saat menanamnya yaitu canang sari, Lenga Wangi, Burat wangi sakesidan dan satu segehan mancawarna. Tujuannya memohon keselamatan kepada Ibu Pertiwi atau Dewaning Pekarangan yang telah menjaga kita alam beraktivitas sehari-hari,” pungkasnya. (hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.