Mahasiswa Parbud STAHN Mpu Kuturan Ngayah Di Pura Negara Gambur Anglayang

Gelar Bakti Sosial, HMPS Filsafat Hindu Berbagi Keceriaan Di Panti Asuhan Dana Punia
January 9, 2022
BAN PT Lakukan Visitasi, Lima Prodi Baru di STAHN Mpu Kuturan Dinyatakan Memenuhi Syarat
January 13, 2022

SINGARAJA, HUMAS – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pariwisata Budaya melaksanakan kegiatan pengabdian di Pura Negara Gambur Anglayang Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan Sabtu, 8 Januari 2022. Disana, mahasiswa melaksanakan ngayah, dan menyerahkan punia, serta melakukan penelusuran history pura.

Kawasan suci Pura Negara Gambur Anglayang yang berlokasi di wilayah Pantai Kuta Banding, Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, memang memiliki beragam keunikan. Ada simbol keberagamaan dalam deretan pelinggih yang berjejer tanpa sekat dari sisi utara ke selatan.

Konon, Pura Negara Gambur Anglayang adalah tempat suci tertua yang ada di Desa Kubutambahan. Masyarakat setempat sering juga menyebut Pura Negara Gambur Anglayang sebagai Pura Pancasila dan Pura Multikultur. Pasalnya, tempat suci ini memiliki sederet pelinggih dengan simbol etnik dan agama berbeda, sehingga Pura Negara Gambur Anglayang sering juga disebut sebagai Pura Multikultur.

Terdapat delapan bangunan pelinggih yang terletak di jeroan (dalam) Pura Negara Gambur Anglayang. Kedelapan bangunan pelinggih inilah yang mencerminkan keragaman etnik dan agama di nusantara. Keseluruhan bangunan itu pun memiliki corak dan ornamen yang berbeda antara satu dengan lainnya, seakan membawa mewakili suku, ras dan agama tertentu.

Deretan bangunan pelinggih di Pura Negara Gambur Anglayang diantaranya bernama, pelinggih Ratu Bagus Sundawan, kemudian pelinggih Ratu Bagus Melayu , juga pelinggih Ratu Ayu Syahbandar dan Ratu Manik Mas, selanjutnya pelinggih Ratu Pasek, Dewi Sri dan Ratu Gede Siwa yang mencerminkan unsur Hindu. Dan bangunan pelinggih yang paling unik diantara deretan bangunan di Pura Negara Gambur Anglayang adalah pelinggih yang bernama Ratu Gede Dalem Mekah.

“Dari kegiatan ini juga ada srada bakti, dan disini juga mahasiswa menjadi tahu bahwa ada Pura Pancasilais, Pura Multikulture di Buleleng tepatnya di Kubutambahan,” ujar Kaprodi Patrbud STAHN Mpu Kuturan Singaraja Kadek Wiramarta, M. Pd.

Kedepan, mahasiswa juga diharapkan bisa ikut berperan untuk memperkenalkan dan mengembangkan cerita Pura tersebut menjadi sesuai yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. “Misalnya, Pura ini kan bisa dijadikan objek wisata spiritual,” pungkas Wira. (hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published.