FGD STAHN Mpu Kuturan dengan Yayasan Puri Kauhan Ubud, Siapkan Program Konservasi Air dari Hulu Hingga Hilir

Dosen dan Pegawai STAHN Mpu Kuturan Terima Vaksin Booster
January 30, 2022
Tim Futsal STAHN Mpu Kuturan Singaraja Raih Juara 3 Dan Top Score
February 1, 2022

SINGARAJA, HUMAS – Program konservasi Air dari hulu hingga hilir sedang dirancang STAHN Mpu Kuturan Singaraja bersama Yayasan Puri Kauhan Ubud. Upaya ini sebagai bentuk implementasi dari konsep teo ekologi Hindu yang bersumber dari naskah kuno terkat ritual pemuliaan air.

Hal itu tetungkap saat Focus Group Discussion (FGD) terkait kerjasama dengan yayasan Puri Kauhan Ubud serangkaian dengan Sastra Saraswati Sewana 2022. Kegiatan berlangsung di Aula Gedung Rektorat Kampus Menjangan Senin, (31/1).

Sejumlah narasumber pun dihadirkan. Diantaranya Filolog, Sugi Lanus, Gede Kresna dari Rumah Intaran dan tokoh Catur Dessa Adat Dalem Tamblingan, Jro Putu Ardana. Acara ini juga dihadiri langsung oleh Pembina Yayasan Puri Kauhan Ubud, A.A Bagus Ari Brahmanta.

Ketua Panitia, Nyoman Suka Ardiyasa mengatakan, kegiatan merupakan tindak lanjut MOU STAHN Mpu Kuturan dengan yayasan Puri Kauhan Ubud dibidang Tri Dharma, yang merupakan rangkaian Sastra Saraswati Sewana tahun 2022,

Kegiatan ini merupakan gerakan kesadaran yang dilandasi gagasan pemikiran, yang kokoh untuk menggali eko teologi Hindu terkait dengan konservasi air sebagai penghidupan. Termasuk membantu menginventarisasi berbagai bentuk kegiatan berkaitan dengan eko teologi yang dimiliki.

“Kami mengambil tema, Tamblingan alas Mertajati, karena Danau Tamblingan yang dikelilingi alas Mertajati diyakini mengairi sepertiga wilayah bali. Fungsinya tentu sangat penting sebagai penjaga keseimbangan dan layanan ekosistem yang ada di sebagian Pulau Bali. Sumber-sumber terkait dengan keberadaan Tamblingan pada masa Bali kuno, termuat dalam beberapa prasasti yang ditemukan dikawasan danau tersebut. Hal ini membuktikan bahwa danau Tamblingan pernah menjadi titik peradaban. Sehingga penting untuk dijaga bersama, demi keberlangsungan sumber air bagi sebagian Pulau Bali,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Filolog, Sugi Lanus menyebutkan Kawasan danau tamblingan merupakan salah satu kawasan suci, hal ini dibuktikan dengan adanya prasasti-prasasti Bali Kuno yang berangka tahun sezaman dengan Mpu Sindok hingga Majapahit.

Adanya pemuliaan air dalam kawasan danau Tamblingan yang dibuktikan dengan adanya teks-teks, pemuliaan dalam kawasan danau Tamblingan juga terkait dengan adanya upacara-upacara dalam Pura Pulaki, ketika melaksanakan ngaturang pakelem pasti menuju pada danau tamblingan hal ini karena hulu dari wilayah Buleleng adalah danau Tamblingan.

Berdasarkan konsep teologi dan kosmologi (hulu-teben), daerah Panji, Selat, desa-desa Bali Aga, hingga Pulaki menganggap Danau Tamblingan sebagai hulu yang mengairi sungai-sungai hingga ke bagian hilir.

“Desa-desa Bali Aga yang ada di sekitar Danau Tamblingan menempati sekeliling danau sebagai bentuk pemuliaan dan penghormatan keberadaan danau Tamblingan sebagai kawasan suci. Berbagai ritual penghormatan terhadap danau Tamblingan seperti Karya Alilitan, Mapag Toya merupakan teks berjalan selain sumber-sumber prasasti,” jelasnya.

Untuk itu, diharapkan adanya Perda tentang kawasan Tamblingan sebagai kawasan suci sehingga Tamblingan tetap terjaga kelestariaanya serta memeiliki kekuatan secara hukum. Tamblingan patut diusulkan sebagai tempat wisata spiritual, bukan wisata biasa.

Banyak yang dapat digerakkan mulai dari teks sampai laku, inilah pentingnya mengawal adanya teks serta ada tindakan (aksi). Namun pentingnya aksi berdasarkan adanya teks sebagai dasar dan penguat pemahaman. “Dalam beberapa prasasti ternyata ada beberapa pohon yang dinyatakan dilindungi, hal ini perlu adanya perubahan kurikulum tentang pelestarian lingkungan,” paparnya.

Sementara itu, Jro Putu Ardana selaku tokoh Adat Catur Desa Adat Dalem Tamblingan mengungkapkan pihaknya sudah melakukan berbagai upaya revitalisasi.  Seperti mendorong agar mengembalikan alam alas merta jati ke adat bukan lagi milik negara. Pada tahun 2017 telah melakukan pemetaan sosial budaya, invertarisasi flora dan fauna, nilai nilai luhur yang kami punya, dalam menjaga danau sebagai suplayer air.

Termasuk membuat sistem yang kuat, dalam menepis masyarat kami kuno, premitif, bodoh. Kami mendapatkan hasil yang signifikan, desa solid dan menguat, semakin banyak kaum muda yang paham nilai nilai ajaran leluhur, dan kaum muda berbangga memilikinya. “Kami telah melakukan digitaliasasi terhadap prasasti oleh kaum muda terkait tamblingan dan alas merta jati,” paparnya.

Di sisi lain, Gede Kresna dalam penjelasannya menyebutkan sungai-sungai saat ini tidak seperti dulu, terutama dalam hal debit air dan kebersihan. Buruknya kebiasaan dan perilaku manusia dalam menjaga hutan (habit yang buruk). Kebiasaan buruk oknum masyarakat menebangi dan membakar Pohon Bambu, menebang Pohon Rotannya.

Kondisi ini terjadi lantaran kegiatan partisipatif yang cenderung gagal, sehingga perlu adanya analisa dan sintesa gagasan yang komprehensif untuk mendukung kegiatan tersebut. Banyak tanaman yang dapat menyerap air seperti jenis Ficus (beringin, loa, bunut) mulai hilang, karena ditebang, sehingga air tidak dapat diserap dan ditahan dengan baik.

“Sebenarnya potensi ekonomi hutan itu sangat besar. Semisal, dengan melestarikan Tanaman Kapulaga di hutan itu sudah luar biasa. Jadi tugas manusia adalah sebagai pembantu penyebar benih tanaman-tanaman ini secara merata dengan tidak perlu melakukan perusakan terhadap tanaman lainya,” paparnya.

Pihaknya pun berharap agar Generasi muda ikut melakukan aksi secara sekala yang merupakan sebuah tindakan yang tidak kalah pentingnya dengan kegiatan niskala. Dengan melakukan pelestarian pohon-pohon jenis fikus yang sangat baik dalam menyerap dan menyimpan air. Serta penyebaran benih-benih pohon yang berpotensi sebagai sumber ekonomi masyarakat.

“Kesadaran milenial sebagai pemilik masa depan haruslah disarkan mengenai pentingnya nilai-nilai dalam menjaga hutan, memuliakan air melalui kemasan yang sesuai dengan bahasa-bahasa, komunikasi milenial sehingga kaum milenial akan lebih tertarik dan dapat memahaminya,” pungkasnya. (hms)

Leave a Reply

Your email address will not be published.